Otobiografi
Pada
tanggal 11 Mei tahun 1982 saya dilahirkan dari keluarga yang hidup sederhana.
Orang tua saya juga bersal dari keluarga sederhana. Papa saya bekerja sebagai
seorang Polisi yang saat saya lahir bertugas di Polsek Kambang, salah satu kecamatan
di Kota Pesisir Selatan Sumatera Barat. Sedangkan Mama saya adalah seorang Guru
SD. Seperti keluarga pada umumnya, kami hidup bersama. Mama saya ikut pindah
mengajar dimana Papa saya ditugaskan. Sudah layaknya seorang Istri mengikuti
dimana suami bertugas, semampu usaha.
Saya
merupakan anak kedua. Kakak saya seorang perempuan yang mana jarak umurnya
dengan saya tidak terlalu jauh, yaitu hanya berjarak 13 bulan. Bisa dibayangkan
saat itu bagaimana repotnya Orang Tua mengurus kami berdua yang masih sangat
kecil, sementara mereka juga mempunyai kewajiban ditempat kerja masing-masing.
Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan terhadap kehidupan kami. Saya dan
Kakak hampir setiap hari dititipkan
kepada tetangga dan dijemput Kembali saat Mama pulang mengajar. Allah
mengirimkan tetangga dan teman-teman kepada Orang Tua kami. Kami hidup
bertetangga saling berdampingan dan saling bantu membantu sama lainnya. Ya,
saya masih ingat memori dan kenangan waktu kecil saya di tanah kelahiran kami,
saya dan Kakak saya.
Pada
saat berumur 4 tahun, kami pindah ke Kota Pariaman. Ya, itu merupakan salah
satu Kota di Sumatera Barat. Kota kelahiran kedua orang tua kami. Papa saya
dipindahtugaskan ke kota kelahiran beliau. Pun begitu dengan Mama. Mama juga
mengajukan pindah tempat mengajar. Demikianlah sampai sekarang saat Orang Tua
kami pensiunpun, mereka tetap tinggal di Kota pariaman. Di kota inilah lahirnya
3 orang adik saya. Jadi kami adalah lima bersaudara, sedangkan saya adalah anak
kedua.
Saya
mulai bersekolah saat umur 5 tahun di TK Bhayangkari. Ada hal unik juga saat
saya sekolah TK. Jam masuk kelas dimulai pukul 7.30 pagi. Sedangkan saya
diantar oleh Papa pukul 6.20 pagi, sedangkan sekolah masih belum buka. Hal
tersebut dilakukan karena Papa harus apel pagi dan sampai di kantor sebelum
pukul 6.30 pagi. Namun demikian saya dititipkan kepada salah seorang Ibu
Bhayangkari (Istri Polisi) sampai sekolah saya dibuka. Kebetulan sekali sekolah
saya berdekatan dengan Asrama Polisi.
Setelah
menamatkan sekolah TK, saya melanjutkan ke SD 04 Rawang dimana Mama saya
mengajar. Tidak butuh transportasi apapun untun menuju ke sekolah, karena kami
tinggal di perumahan guru yang mana satu kompleks dengan SD saya. Menamatkan
sekolah dasar dengan nilai yang baik membuat saya bisa melanjutkan ke SLTP yang
paling favorit, namun saya memilih sekolah sesuai dengan rayon dan dekat dengan
rumah yaitu SLTP 4 Pariaman. Sama halnya saya menamatkan SLTP dengan baik dan
melanjutkan ke SMU yang juga relatif
dekat dengan tempat tinggal saya, yaitu SMU N 2 Pariaman. Semasa di SMU,
saya memiliki nilai yang cukup bagus sehingga saya diperbolehkan untuk mengisi
formulir Mahasiswa Jalur Khusus atau PMDK. Cukup ketat juga penyaringan bagi
siswa yang bisa mengisi formulir, karena jumlahnya terbatas. Alhamdulillah
berkat perjuangan belajar dan bimbingan serta pastinya do’a Orang Tua saya
berhasil kuliah di Universitas Negeri melalui jalur PMDK. Saya berkuliah di
Universitas Andalas, Padang pada Fakultas Teknik dengan Jurusan Teknik
Lingkungan.
Semasa
kuliah inilah saya menjadi Asisten Dosen pada Laboraturium Pencemaran Udara dan
mata kuliah lain. Bagaimana dengan kuliah saya? Saya menamatkan kuliah dengan
perjuangan yang relatif panjang. Saya wisuda dengan masa studi 5,5 tahun. Ya,
itu waktu yang lama dan panjang. Saya mengerjakan Tugas Akhir hampir 1,5 tahun
lamanya. Dimulai dengan sampling di lapangan, dilanjutkan dengan penelitian di
laboratorium dan terakhir pengolahan data serta analisis. Yang paling
membutuhkan waktu panjang adalah penelitian di laboratorium. Dengan waktu yang panjang
tersebut yang membuat saya saat itu sempat mengalami krisis percaya diri karena
merasa lama sekali untuk menyelesaikan studi. Namun benar kata istilah, akan
indah pada masanya. Berbekal dari lamanya penelitian saya dan rekan. Karena
dalam penelitian itu saya tidak sendiri. Saya memiliki rekan juga. Kami
sama-sama saling berusaha dan bantu membantu agar penelitian ini selesai. Saya
memiliki banyak kenalan baik dari dosen maupun di Lembaga Penelitian
Universitas Andalas. Setelah menamatkan kuliah, saya langsung diminta dosen
pembimbing saya untuk menggantikan beliau untuk mengajar salah satu Universitas
Swasta, mata kuliah Pengendalian
Pencemaran Udara. Selain itu, saya juga diajak ikut membantu di Pusat Studi Lingkungan
Hidup (PSLH) Universitas Andalas. Alhamdulillah ternyata tidak ada yang terjadi
sia-sia. Saya bekerja di PSLH selama 2 tahun sebelum saya memutuskan berhenti
dan merantau ke Jakarta.
Pada
pertengahan tahun 2008 saya memutuskan untuk mengadu nasib di Ibu Kota.
Berbekal uang tabungan sewaktu kerja dan sangu dari Tim di PSLH yang membuat
saya terharu Bahagia, ternyata mereka begitu menyayangi dan memperhatikan saya.
Tidak sendiri di Jakarta. Saya kos bersama teman yang terlenih dahulu telah
bekerja di BPK RI. Dari sinilah kehidupan nyata dunia pekerjaan saya rasakan.
Setiap hari kerjaan ke Kementerian Kehutanan yang saat itu menyediakan computer
dan internet gratis. Rutinitas setiap hari dari senin sampai jumat mencari
lowongan pekerjaan dan memasukkan lamaran ke kantor-kantor yang membutuhkan.
Bolak-balik masukin lamatan, test namun belum ada pekerjaan yang sesuai. Selama
6 bulan tidak bekerja, membuat tabungan menipis dan hampir putus asa.
Namun
ada salah satu perusahaan konsultan lingkungan yang memanggil untuk wawancara.
Nah, inilah yang saya cari. Alhamdulillah saya diterima sebagai salah seorang
staf di PT Karsa Buana Lestari (PT KBL). Ya, pekerjaan ini cocok dengan saya,
karena background saya yang Teknik Lingkungan. Jadi relevan antara pekerjaan
dan ilmu yang saya miliki. Klop rasanya. Selang lima bulan saya bekerja di KBL,
saya menemukan jodoh saya. Bukan orang jauh dan bukan juga rekan kerja. Saya
menikah dengan seorang lelaki pujaan hati yang bernama Jepri Edi. Beliau adalah
teman saya sewaktu SMU dulu. Setelah menamtkan SMU, suami saya kuliah di
Universita Indonesia selanjutnya bekerja di Kementerian Luar Negeri, jadi kami
tidak bertemu dalam waktu yang cukup panjang. Singkat cerita akhirnya kami
menikah pada tanggal 6 Maret 2009. Cukup lama kami tidak memiliki keturunan,
sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan focus untuk
menjalani program hamil. Tepat pada tanggal 1 November 2009 saya memutuskan
untuk resign dari PT KBL dan pure menjadi Ibu Rumah Tangga. Sekitar bulan Oktober
2009, saya dan teman-teman tidak sengaja mengikuti seleksi PNS Pemrov DKI.
Kenapa saya bilang tidak sengaja karena tidak ada persiapan, tidak ada
terlintas akan lolos karena pesertanya yang masya Allah banyak sekali. Namun
itulah Qadarullah, takdir Allah mengatakan bahwa pada tanggal 4 Desember 2009
pengumuman keluar dan nama saya ada sebagai salah seorang yang lolos dan
diterima menjadi PNS Pemrov DKI. Padahal saat itu saya sudah menjalani peran
sebagai Ibu Rumah Tangga selama 1 bulan dan program hamil. Semenjak pengumuman
hingga masuk kerja di Pemrov DKI Jakarta butuh waktu 6 bulan. Jadi saya tetap
menjalankan peran sebagai Ibu Rumah Tangga. Allah telah menetapkan bahwa saya
belum layak (saat itu) untuk dititipkan anak. Ya hingga saya masuk kerja tanggal
2 ei 2010, saya belum juga hamil. Allah juga telah memutuskan bahwa suami saya
diterima melanjutkan kuliah S2 di ANU Canberrra Australia dan akan berangkat
tanggal 6 Juni 2010. Dengan beberapa pertimbagan dan masukan mertua dan orang
tua, akhirnya suami berangkat sendiri ke Australia sedangkan saya tetap
melanjtkan kerja sebagai Abdi Negara Di Pemrov DKI Jakarta. Siapa yang
menyangka, ternyata saat suami saya liburan semester selama 3 bulan di
Indonesia, dan pada bulan ketiga saat suami hendak kembali ke Australia saya
dinyatakan hamil. Alhamdulillah, akhirnya Allah menganugerahi kami anak. Anak
pertama kami lahir saat suami liburan semester, dan Alhamdulillah suami juga
ada disaat saya melahirkan anak kami.
Anak
pertama kami lahir pada tanggal 4 Oktober 2011, dan kami berinama Reisha
Azaleia Edi. Dia kami panggil Azel. Azel tumbuh menjadi anak yang cantik.,
sehat dan pintar. Pada saat Azel berumur 10 bulan, suami berhasil menamatkan
kuliah dan Kembali ke Indonesia. Siapa sangka, ternyata disaat Azel berumur 1
tahun, saya sedang mengandung adiknya tanpa disadari. Saya mengandung anak
kembar, namun mereka tidak bertahan hidup di Rahim saya. Pada bulan November
2012 saya mengalami keguguran anak kembar kami. Pada bulan aret 2013 Allah
menggantinya, saya dinyatakan hamil (Kembali). Pada awal Juli 2013, suami
ditugaskan ke hicago Amerika Serikat. Nah pada saat itu saya akhirnya mantap
untuk memutuskan berhenti dari PNS Pemrov DKI Jakarta dan mengikuti suami
bertugas. Akhirnya SK Pengunduran saya terbit pada bulan Agustus 2013, satu
bulan setelah saya berangkat ke Amerika Serikat. Singkatnya anak kedua kami
lahir pada tanggal 7 Desember 2013 di salah satu rumah sakit di Chicago, dan
kami beri nama Anindira Kaylana Edi. Dia kami panggil Kayla. Kayla dan Azel
tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria. Kami tinggal di Chicago selama 3
tahun dan Kembali ke Indonesia pada tanggal 30 Juli 2016. Siapa Sangkat,
ternyata saat Kembali ke Indonesia saya juga dalam keadaan hamil anak ketiga.
Anak
ketiga kami lahir di Indonesia pada tanggal 28 Oktober 2016, seorang anak
kali-laki yang kami berinama Muhammad Atharyaksa Edi. Kami panggial dia dengan
sebutan Aksa.
Saat
menuliskan Otobiografi ini, saya tengah berada di Istanbul, Turki. Ya kali ini
suami saya ditugaskan di KJRI Istanbul.
Kami pindah ke Istanbul sejak 15 Agustus 2019 tahun lalu. Semenjak
mengikuti suami penempatan pertama dan kedua saat ini, saya mengikuti
organisasi perkumpulan istri pegawai atau lebih dikenal dengan DWP. Merasa
tidak puas dan masih merasa harus meningkatkan kualitas sebagai seorang
pribadi, Isri dan Ibu sekarang saya meniba ilmu di Institut Ibu Profesional.
Saya bergabung bersama IP pada akhir tahun 2019, dan sekarang sedang belajar di
Institut tergabung dalam kelas matrikulasi batch #8. Demikianlah perjalanan
hidup saya hingga hari ini saya masih tetap dan terus belajar.
Insya
Allah.