Tuesday, July 14, 2020

Otobiografi


Otobiografi

Pada tanggal 11 Mei tahun 1982 saya dilahirkan dari keluarga yang hidup sederhana. Orang tua saya juga bersal dari keluarga sederhana. Papa saya bekerja sebagai seorang Polisi yang saat saya lahir bertugas di Polsek Kambang, salah satu kecamatan di Kota Pesisir Selatan Sumatera Barat. Sedangkan Mama saya adalah seorang Guru SD. Seperti keluarga pada umumnya, kami hidup bersama. Mama saya ikut pindah mengajar dimana Papa saya ditugaskan. Sudah layaknya seorang Istri mengikuti dimana suami bertugas, semampu usaha.

Saya merupakan anak kedua. Kakak saya seorang perempuan yang mana jarak umurnya dengan saya tidak terlalu jauh, yaitu hanya berjarak 13 bulan. Bisa dibayangkan saat itu bagaimana repotnya Orang Tua mengurus kami berdua yang masih sangat kecil, sementara mereka juga mempunyai kewajiban ditempat kerja masing-masing. Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan terhadap kehidupan kami. Saya dan Kakak  hampir setiap hari dititipkan kepada tetangga dan dijemput Kembali saat Mama pulang mengajar. Allah mengirimkan tetangga dan teman-teman kepada Orang Tua kami. Kami hidup bertetangga saling berdampingan dan saling bantu membantu sama lainnya. Ya, saya masih ingat memori dan kenangan waktu kecil saya di tanah kelahiran kami, saya dan Kakak saya.

Pada saat berumur 4 tahun, kami pindah ke Kota Pariaman. Ya, itu merupakan salah satu Kota di Sumatera Barat. Kota kelahiran kedua orang tua kami. Papa saya dipindahtugaskan ke kota kelahiran beliau. Pun begitu dengan Mama. Mama juga mengajukan pindah tempat mengajar. Demikianlah sampai sekarang saat Orang Tua kami pensiunpun, mereka tetap tinggal di Kota pariaman. Di kota inilah lahirnya 3 orang adik saya. Jadi kami adalah lima bersaudara, sedangkan saya adalah anak kedua.

Saya mulai bersekolah saat umur 5 tahun di TK Bhayangkari. Ada hal unik juga saat saya sekolah TK. Jam masuk kelas dimulai pukul 7.30 pagi. Sedangkan saya diantar oleh Papa pukul 6.20 pagi, sedangkan sekolah masih belum buka. Hal tersebut dilakukan karena Papa harus apel pagi dan sampai di kantor sebelum pukul 6.30 pagi. Namun demikian saya dititipkan kepada salah seorang Ibu Bhayangkari (Istri Polisi) sampai sekolah saya dibuka. Kebetulan sekali sekolah saya berdekatan dengan Asrama Polisi.

Setelah menamatkan sekolah TK, saya melanjutkan ke SD 04 Rawang dimana Mama saya mengajar. Tidak butuh transportasi apapun untun menuju ke sekolah, karena kami tinggal di perumahan guru yang mana satu kompleks dengan SD saya. Menamatkan sekolah dasar dengan nilai yang baik membuat saya bisa melanjutkan ke SLTP yang paling favorit, namun saya memilih sekolah sesuai dengan rayon dan dekat dengan rumah yaitu SLTP 4 Pariaman. Sama halnya saya menamatkan SLTP dengan baik dan melanjutkan ke SMU yang juga relatif  dekat dengan tempat tinggal saya, yaitu SMU N 2 Pariaman. Semasa di SMU, saya memiliki nilai yang cukup bagus sehingga saya diperbolehkan untuk mengisi formulir Mahasiswa Jalur Khusus atau PMDK. Cukup ketat juga penyaringan bagi siswa yang bisa mengisi formulir, karena jumlahnya terbatas. Alhamdulillah berkat perjuangan belajar dan bimbingan serta pastinya do’a Orang Tua saya berhasil kuliah di Universitas Negeri melalui jalur PMDK. Saya berkuliah di Universitas Andalas, Padang pada Fakultas Teknik dengan Jurusan Teknik Lingkungan.

Semasa kuliah inilah saya menjadi Asisten Dosen pada Laboraturium Pencemaran Udara dan mata kuliah lain. Bagaimana dengan kuliah saya? Saya menamatkan kuliah dengan perjuangan yang relatif panjang. Saya wisuda dengan masa studi 5,5 tahun. Ya, itu waktu yang lama dan panjang. Saya mengerjakan Tugas Akhir hampir 1,5 tahun lamanya. Dimulai dengan sampling di lapangan, dilanjutkan dengan penelitian di laboratorium dan terakhir pengolahan data serta analisis. Yang paling membutuhkan waktu panjang adalah penelitian di laboratorium. Dengan waktu yang panjang tersebut yang membuat saya saat itu sempat mengalami krisis percaya diri karena merasa lama sekali untuk menyelesaikan studi. Namun benar kata istilah, akan indah pada masanya. Berbekal dari lamanya penelitian saya dan rekan. Karena dalam penelitian itu saya tidak sendiri. Saya memiliki rekan juga. Kami sama-sama saling berusaha dan bantu membantu agar penelitian ini selesai. Saya memiliki banyak kenalan baik dari dosen maupun di Lembaga Penelitian Universitas Andalas. Setelah menamatkan kuliah, saya langsung diminta dosen pembimbing saya untuk menggantikan beliau untuk mengajar salah satu Universitas Swasta,  mata kuliah Pengendalian Pencemaran Udara. Selain itu, saya juga diajak ikut membantu di Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Andalas. Alhamdulillah ternyata tidak ada yang terjadi sia-sia. Saya bekerja di PSLH selama 2 tahun sebelum saya memutuskan berhenti dan merantau ke Jakarta.

Pada pertengahan tahun 2008 saya memutuskan untuk mengadu nasib di Ibu Kota. Berbekal uang tabungan sewaktu kerja dan sangu dari Tim di PSLH yang membuat saya terharu Bahagia, ternyata mereka begitu menyayangi dan memperhatikan saya. Tidak sendiri di Jakarta. Saya kos bersama teman yang terlenih dahulu telah bekerja di BPK RI. Dari sinilah kehidupan nyata dunia pekerjaan saya rasakan. Setiap hari kerjaan ke Kementerian Kehutanan yang saat itu menyediakan computer dan internet gratis. Rutinitas setiap hari dari senin sampai jumat mencari lowongan pekerjaan dan memasukkan lamaran ke kantor-kantor yang membutuhkan. Bolak-balik masukin lamatan, test namun belum ada pekerjaan yang sesuai. Selama 6 bulan tidak bekerja, membuat tabungan menipis dan hampir putus asa.

Namun ada salah satu perusahaan konsultan lingkungan yang memanggil untuk wawancara. Nah, inilah yang saya cari. Alhamdulillah saya diterima sebagai salah seorang staf di PT Karsa Buana Lestari (PT KBL). Ya, pekerjaan ini cocok dengan saya, karena background saya yang Teknik Lingkungan. Jadi relevan antara pekerjaan dan ilmu yang saya miliki. Klop rasanya. Selang lima bulan saya bekerja di KBL, saya menemukan jodoh saya. Bukan orang jauh dan bukan juga rekan kerja. Saya menikah dengan seorang lelaki pujaan hati yang bernama Jepri Edi. Beliau adalah teman saya sewaktu SMU dulu. Setelah menamtkan SMU, suami saya kuliah di Universita Indonesia selanjutnya bekerja di Kementerian Luar Negeri, jadi kami tidak bertemu dalam waktu yang cukup panjang. Singkat cerita akhirnya kami menikah pada tanggal 6 Maret 2009. Cukup lama kami tidak memiliki keturunan, sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan focus untuk menjalani program hamil. Tepat pada tanggal 1 November 2009 saya memutuskan untuk resign dari PT KBL dan pure menjadi Ibu Rumah Tangga. Sekitar bulan Oktober 2009, saya dan teman-teman tidak sengaja mengikuti seleksi PNS Pemrov DKI. Kenapa saya bilang tidak sengaja karena tidak ada persiapan, tidak ada terlintas akan lolos karena pesertanya yang masya Allah banyak sekali. Namun itulah Qadarullah, takdir Allah mengatakan bahwa pada tanggal 4 Desember 2009 pengumuman keluar dan nama saya ada sebagai salah seorang yang lolos dan diterima menjadi PNS Pemrov DKI. Padahal saat itu saya sudah menjalani peran sebagai Ibu Rumah Tangga selama 1 bulan dan program hamil. Semenjak pengumuman hingga masuk kerja di Pemrov DKI Jakarta butuh waktu 6 bulan. Jadi saya tetap menjalankan peran sebagai Ibu Rumah Tangga. Allah telah menetapkan bahwa saya belum layak (saat itu) untuk dititipkan anak. Ya hingga saya masuk kerja tanggal 2 ei 2010, saya belum juga hamil. Allah juga telah memutuskan bahwa suami saya diterima melanjutkan kuliah S2 di ANU Canberrra Australia dan akan berangkat tanggal 6 Juni 2010. Dengan beberapa pertimbagan dan masukan mertua dan orang tua, akhirnya suami berangkat sendiri ke Australia sedangkan saya tetap melanjtkan kerja sebagai Abdi Negara Di Pemrov DKI Jakarta. Siapa yang menyangka, ternyata saat suami saya liburan semester selama 3 bulan di Indonesia, dan pada bulan ketiga saat suami hendak kembali ke Australia saya dinyatakan hamil. Alhamdulillah, akhirnya Allah menganugerahi kami anak. Anak pertama kami lahir saat suami liburan semester, dan Alhamdulillah suami juga ada disaat saya melahirkan anak kami.

Anak pertama kami lahir pada tanggal 4 Oktober 2011, dan kami berinama Reisha Azaleia Edi. Dia kami panggil Azel. Azel tumbuh menjadi anak yang cantik., sehat dan pintar. Pada saat Azel berumur 10 bulan, suami berhasil menamatkan kuliah dan Kembali ke Indonesia. Siapa sangka, ternyata disaat Azel berumur 1 tahun, saya sedang mengandung adiknya tanpa disadari. Saya mengandung anak kembar, namun mereka tidak bertahan hidup di Rahim saya. Pada bulan November 2012 saya mengalami keguguran anak kembar kami. Pada bulan aret 2013 Allah menggantinya, saya dinyatakan hamil (Kembali). Pada awal Juli 2013, suami ditugaskan ke hicago Amerika Serikat. Nah pada saat itu saya akhirnya mantap untuk memutuskan berhenti dari PNS Pemrov DKI Jakarta dan mengikuti suami bertugas. Akhirnya SK Pengunduran saya terbit pada bulan Agustus 2013, satu bulan setelah saya berangkat ke Amerika Serikat. Singkatnya anak kedua kami lahir pada tanggal 7 Desember 2013 di salah satu rumah sakit di Chicago, dan kami beri nama Anindira Kaylana Edi. Dia kami panggil Kayla. Kayla dan Azel tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria. Kami tinggal di Chicago selama 3 tahun dan Kembali ke Indonesia pada tanggal 30 Juli 2016. Siapa Sangkat, ternyata saat Kembali ke Indonesia saya juga dalam keadaan hamil anak ketiga.
Anak ketiga kami lahir di Indonesia pada tanggal 28 Oktober 2016, seorang anak kali-laki yang kami berinama Muhammad Atharyaksa Edi. Kami panggial dia dengan sebutan Aksa.

Saat menuliskan Otobiografi ini, saya tengah berada di Istanbul, Turki. Ya kali ini suami saya ditugaskan di KJRI Istanbul.  Kami pindah ke Istanbul sejak 15 Agustus 2019 tahun lalu. Semenjak mengikuti suami penempatan pertama dan kedua saat ini, saya mengikuti organisasi perkumpulan istri pegawai atau lebih dikenal dengan DWP. Merasa tidak puas dan masih merasa harus meningkatkan kualitas sebagai seorang pribadi, Isri dan Ibu sekarang saya meniba ilmu di Institut Ibu Profesional. Saya bergabung bersama IP pada akhir tahun 2019, dan sekarang sedang belajar di Institut tergabung dalam kelas matrikulasi batch #8. Demikianlah perjalanan hidup saya hingga hari ini saya masih tetap dan terus belajar.
Insya Allah.

Wednesday, July 8, 2020

Surat Cinta Pertamaku

Assalamu'alaikum Wr Wb.


Menyelesaikan misi terakhir dalam penjelajahan samudera kali ini membuat hati dag-dig-dug kencang. Terang saja, karena pada misi ini kita akan membuat surat cinta untuk pasangan bagi yang telah menikah.

Jujur saja, saya belum pernah berpacaran dengan orang lain sebelum menikah dengan suami. Adapun cinta monyet waktu SMP dan SMA pasti ada, namun untuk urusan cinta begini saya adalah orang yang pemalu. Laki-laki yang menjadi pacar saya beberapa bulan sebelum kami menikah adalah suami saya. Selama berkenalan dekat, saya tidak pernah bertulis surat sampai akhirnya menjalankan biduk rumah tangga 11 tahun ini.

Ya...saat ini saya telah berani menulis surat cinta pertama untuk suami saya bahkan untuk siapaun dalam hidup saya. Tepat sekali, ini surat cinta pertama saya.

Cinta Sejati Akan Bertransformasi ke Bentuk Cinta yang Lebih ...

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya hati ini saat mengungkapkan rasa cinta kepada suami. Saya berpikir keras sekali mau memulai seperti apa suratnya dan pastinya isinya mau saya tulis seperti apa. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menulisnya. Hari ini saya menyelesaikan surat cinta saya kepada suami. Yup...saya mengirimkan surat cinta yang saya tulis menggunakan Canva. Membuat dan menulisnya dengan sepenuh hati. Saya mengirimkannya pukul 7.18 malam waktu Istanbul.

Pagi tadi suami mengatakan bahwa akan telat pulang karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Namun hati ini sudah berdegup terlalu kencang untuk menahan kirim atau tidak, kirim atau tidak surat cintanya pada hari ini. Karena sudah tidak tahan dan takut jantung ini semakin berdegup kencang, akhirnya saya beranikan diri untuk mengirimnya.

Sains Sekitar Kita: Bagaimana orang bisa jatuh cinta?

Dan tahukah teman-teman? ternyata suami saya yang hari ini sibuk sekali menyempatkan untuk membalasnya, pun menggunakan Canva. Dan mengirimkannya pada pukul 7.44 malam Waktu Istanbul. Bagaimana perasaan saya saat menunggu balasannya? bener-bener ga bisa dibayangkan gundahnya. Apakah akan dibalas dengan surat juga atau dengan ucapan.

Masya Allah.....nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? Ya Allah, Alhamdulillah saya bahagia sekali rasanya mendapatkan balasan surat cinta dari suami. Saya berharap kedepannya bounding antara kami semakin kencang dan kuat, aamiiin Yaa Rabbal'alamiiin.

Sumber gambar : google

Bunda Cekatan : Tahap Kupu-kupu Pekan 7