Awal mula saya mengetahui tentang Ibu
Profesional atau yang disingkat dengan IP adalah dari postingan facebook salah
seorang teman saya sekitar akhir tahun 2017 atau awal 2018. Ketika itu beliau
mengikuti perkuliahan matrikulasi di Institut Ibu Profesiaonal (IIP).
Kepo ga sih apa itu Ibu Profesional?
Iyaaaaa, saya kepo banget waktu itu.
Kenapa? ya… karena menurut saya materi perkuliahannya seru dan unik. Terus saya
baca-baca juga tentang founder Ibu Profesional yaitu Bunda Septi, dan saya
semakin tertarik untuk tahu semakin
dalam tentang IP.
Balik lagi ya ke teman yang saya dicertain
diatas 😊.
Selama teman saya mengikuti perkuliahan
matrikulasi, saya selalu menungu-nunggu saat dia posting atau upload tugasnya 😊,
maaf ya Fren, FB mu di-stalking terus. Penyelidikan terus berlanjut, baik
melalui teman saya maupun info-info lain dari medsos tentang IP. Bagaimana cara
mengikuti atau mendaftar jadi member? kapan buka pendaftaran dan sebagainya? karena saya sudah mulai inginmasuk kedunianya.
Ternyata apa yang saya mau selama ini
ada di IP.
Apa sih yang kamu cari?
Sebagai seorang perempuan, sebagai
istri, sebagai Ibu saya juga butuh “berkarya” untuk mengaktualisasikan diri
saya. Oia, sebagai info, saya seorang Sarjana Teknik. Dan sebelum saya
memutuskan untuk resign dan ikut suami yang kerjanya berpindah-pindah negara, saya pernah bekerja
di bidang Pemerintahan. Nah itu dulu, saat itu saya masih menggunakan "otak" (baca : ilmu) saya
yang didapat dari perkuliahan. Saya resign pertengahan 2013, saat itu saya
telah memiliki seorang anak perempuan cantik (Masya Allah) yang berusia hampir 2 tahun dan sedang
hamil anak kedua. Awal mula saya tidak bekerja, perasaan saya sangat bahagia.
Saya merasa sedang cuti saja, saya tidak perlu survey bangunan, tidak perlu lagi
memeriksa gambar, atau mengikuti kegiatan perkantoran yang saat itu load kerjaan sedang banyak-banyaknya. Minggu berganti bulan akhirnya saya
merasa bosan, merasa tidak berguna, kerjaan sehari-hari hanya mengurus anak,
dapur, sumur dan kasur. Saya merasa rendah diri karena sudah tidak bekerja (di luar rumah). Ditambah lagi saya berada jauuuuh dari keluarga dan
teman. Kami berada ditempat yang terpisah waktu 12 jam dari Indonesia. Saat
anak kedua saya lahir, saya sempat mengalami baby blues. Saya selalu merasa
tidak becus sebagai seorang Ibu. Ga tahu kenapa saya selalu merasa begitu,
Alhamdulillah kondisi tersebut tidak lama.
Pada saat itu saya selalu mencari jati
diri saya. Sebenarnya saya mau apa dan bagaimana sih? Lama juga pencarian yang
saya lakukan. Saya kira passion saya di cooking and baking, tapi kok saya moody
banget ya. Kadang saya senang banget berada di dapur, kadang untuk masak telor ceplok
aja malasnya minta ampuuun. Lalu saya coba menjahit, mungkin saya minat di
jahit. Ternyata ga juga ya, buktinya baju yang sudah saya gunting untuk bikin
baju anak sudah 2 tahun belum jadi juga 😊.
Ntah lah, sebenarnya saya pengen apa sih? Saat ini yang saya inginkan adalah menemukan minat saya, kemauan saya apa dalam hidup ini?
Ntah lah, sebenarnya saya pengen apa sih? Saat ini yang saya inginkan adalah menemukan minat saya, kemauan saya apa dalam hidup ini?
Selain menjadi wanita sholehah
tentunya.
Sering juga saya diskusi dengan suami,
saya ini sebenarnya kemauannya apa? Namun suami selalu memberi
jawaban yang normatif “aku tahu kamu pasti tahu apa yang kamu mau” aduh, berasa
iklan yak. Yang jelas Insya Allah saya yakin bahwa keputusan saya untuk
bergabung dengan Ibu Profesional dan memilih selasar institut adalah pilihan
yang terbaik dan tepat.
Cukup lama saya menantikan untuk dapat
bergabung dalam naungan Ibu Profesional.
Yah…sekitar dua tahun lebih akhirnya pada November 2019 saya berhasil
mendaftar sebagai member Ibu Profesional. Ada cerita menarik sekitar dua tahun
lalu saat saya hendak mendaftar sebagai member. Jadwal dan alarm di HP sudah
saya setel, namun Qadarullah pada saat jadwal yang ditentukan saya tidak dapat
mendaftar karena gangguan sinyal internet di kampung saya. Pada saat itu
kebetulan saya sedang pulang kampung di daerah Sumatera. Tahun berikutnya juga
sama, saya gagal mendaftar sebagai member. Sempat merasa hopeless. Akhirnya pada tahun ketiga mengenal
Ibu Profesional, saya bisa mendaftar sebagai member. Alhamdulillah.
Seru juga
sih saat mendaftar kemaren, menegangkan juga. Nah, pada jadwal yang telah
ditentukan kebetulan saya mengikuti acara perkumpulan istri pegawai ditempat
suami bekerja. Setengah jam sebelum pembukaan pendaftaran saya sudah selesai
acara dan sedang menunggu bis untuk pulang ke rumah. Ndilalah entah kenapa saat
itu bis nya penuh-penuh, akhirnya saya menunggu dan naik beberapa bis berikutnya. Waktu sudah
menunjukkan kurang dari 10 menit untuk pembukaan pendaftaran namun saya masih berada
di luar dan di tempat yang kurang nyaman untuk membuka HP secara leluasa.
Akhirnya saya pasrah aja, apa yang terjadi. Kalau seandainya saya “berjodoh”
dengan IP maka saya akan bisa mendaftar, namun jika belum “jodoh” mau
bagaimanapun saya ga bisa mendaftar. Pada saat itu orang yang berminat
mendaftar member IP ribuan orang dan yang diterima tidak semuanya. Berarti ada saringannya. Makanya
saya deg-degan apabila telat mendaftar. Dan Alhamdulillah akhirnya dengan
berbagai verifikasi data saya berhasil menjadi member di IP Asia.
Program IP yang telah saya
nanti-nantikan sejak dulu akhirnya datang juga. Pada tahun 2020 ini memasuki
chapter baru, dimana banyak sekali perubahan-perubahan pada struktur IP. Hal
ini bertujuan untuk menuju kebaikan dan perkembangan IP dimasa yang akan
datang. Ada 5 komponen pada chapter yang baru ini, seperti Institut Ibu
Profesional (IIP), Komunitas, Sejuta Cinta, Resource Center Ibu Profesional
(RCIP), Koperasi Ibu Profesional Mandiri (Kipma).
Dari lima komponen diatas, saya memilih
satu diantaranya yaitu IIP. Kenapa saya hanya pilih satu komponen saja? karena saya sadar
dengan kapasitas saya sekarang baru bisa mengikuti satu komponen. Mengapa saya
pilih IIP? Karena Saya yakin bahwa tempat saya bernaung untuk mengembangkan diri
sekarang adalah tempat yang tepat bagi saya dan saya yakin bahwa ini merupakan
tempat yang benar, karena salah satu tujuan dari IIP adalah menjadi Ibu yang bahagia.
Ibu yang bahagia akan membuat seluruh isi rumah bahagia. Bahagia seorang Ibu
itu sangat relatif dan berbeda-beda standar dan bentuknya dengan yang lain. Di
IIP ini kita akan memilih cara bahagia kita sendiri. Memiliki kebahagian dalam
mencari ilmu sangat bermanfaat untuk menemukan benang merah mencapai visi dan
misi dalam hidup.
Melalui IIP nantinya saya akan dibawa
menjelajah Samudra luas oleh Widyaiswara dan saya harus menyelesaikan misi
pelayaran untuk mendapatkan harta karun. Oleh karena itu, saya harus mengikuti
berbagai macam kegiatan yang ada di IIP. Rangkaian kegiatan yang akan saya
ikuti adalah kelas matrikulasi, kelas bunda sayang, kelas bunda cekatan,
kelas bunda produktif dan kelas bunda shalehah. Semoga penjelajahan saya dan teman-teman lainnya berhasil ya.
Aamiiin.
No comments:
Post a Comment