
Pada zona dua ini perasaan saya campur aduk dan emosi turun naik. Kadang tak terelakkan untuk menurunkan emosi kepada anak-anak yang sedang berlatih kemandirian. Baru zona kedua padahal, saya sudah merasa tertatih-tatih untuk melatih kesabaran diri saya sendiri dalam melatih kemandirian anak-anak.
Kali ini yang akan saya bicarakan adalah tentang Aksa, anak bungsu saya. Karena kedua kakaknya telah berhasil melewati tantangan kemandiriaan mereka masing-masing. Ya Aksa, anak laki-laki saya yang dekat dan manja sekali sama saya. Saat tantangan zona dua, dia saya latih untuk bisa makan sendiri dan memakai pakaian sendiri. Awal-awal tantangan hampir berjalan mulus dan lancar untuk mereka bertiga. Namun semakin bertambahnya hari Aksa mulai memperlihatkan "perlawanannya" untuk menyuap makanan sendiri. Namun tetap saya biarkan dia mencoba makan sendiri. Saya mengatakan bahwa kalau tidak makan, nanti yang akan lapar adalah diri Aksa sendiri bukan orang lain. Namun beberapa kali dia tetap keukeuh untuk tidak mau makan sendiri hingga menyisakan banyak makanan.
Dihari ketitiga terakhir tantangan saya dan suami berdiskusi mengenai latihan kemandirian Aksa. Suami menyarankan bahwa pelan-pelan saja dan tidak tiap saat makan dia disuapin. Pertimbangan suami adalah melihat tubuh Aksa yang agak kurus dari biasanya karena kurangnya asupan makanan. Akhirnya dia beberapa kali disuapin makan saat benar-benar mogok makan. Namun saat kondisi mood nya lagi bagus dia akan makan sendiri.
Demikianlah pengalaman saya dalam melatih kemandirian tiga anak-anak saya. Saat inipun saya masih tertatih-tatih mengumpulkan kesabaran dalam mengadapi ketidakmauan Aksa untuk makan sendiri. Beharap suatu saat nanti anak-anak dapat mandiri dan menguus semua keperluannya. Aamiiin.
No comments:
Post a Comment