Monday, March 8, 2021

Zona 7 : Pendidikan Seksualitas Hari Ke 6 (Materi Live Kelompok)

 Tadarus Ramadhan: Orang yang Pertama Kali Menulis Basmalah

Pemahaman Perbedaan Gender

Oleh Kelompok 1


Perbedaan antara Gender, Sex dan Orientasi Seksual

Pengertian Gender

Gender menurut KBBI adalah “jenis kelamin”. Jika kita telusuri lebih dalam, jenis kelamin adalah “sifat atau keadaan jantan atau betina"

Menurut WHO, gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan baik secara sosial maupun kultural.

 

Pengertian Sex

Sex lebih merujuk kepada pembagian 2 jenis kelamin yang ditentukan dari segi biologis, yakni laki-laki dan perempuan.

Jenis kelamin/sex terbentuk alami sejak dalam kandungan. Sex ini bersifat mutlak, artinya tidak akan berubah walaupun dilakukan penukaran jenis kelamin. Misalnya laki-laki yang merubah jenis kelaminnya sebagai perempuan tidak akan bisa hamil karena tidak memiliki sel telur dan Rahim. Demikian juga sebaliknya.

 

Pengertian Orientasi Seksual

Orientasi seksual adalah rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional terhadap jenis

kelamin tertentu; dapat diikuti dengan adanya perilaku seksual ataupun tidak. Orientasi seksual dapat dibedakan menjadi 3: heteroseksual, biseksual, dan homoseksual. Orientasi seksual yang kodrati pemberian Tuhan adalah heteroseksual, sedangkan biseksual dan homoseksual dikategorikan sebagai kelainan orientasi seksual.

Tabel perbedaan antara Gender, Sex dan Orientasi Seksual


Pentingnya Gender Mengenalkan Gender

  • Anak mampu memahami identitas gendernya sendiri.
  • Agar anak mengetahui area-area pribadi tubuhnya yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain.
  • Paham peran dan tanggung jawab yang berbeda dari keduanya.
  • Agar orientasi seksualnya benar.
  • Tahu cara berinteraksi dengan lawan jenis, memahami perasaannya, bagaimana berperilaku, dan bersikap.
  • Agar bisa berempati pada lawan jenis dan pasangannya kelak; perempuan dapat memahami laki-laki dan sebaliknya, istri memahami suami dan sebaliknya.
  • Anak diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga anak akan diterima di lingkungan sosial bahkan anak akan mudah untuk bersosialisasi.
  • Anak-anak yang tidak paham akan perbedaan gender pada saat dewasa berpeluang besar memiliki masalah sosial dan penyimpangan seksualitas.

Tahapan Pengenalan Gender Kepada Anak


Strategi Mengenalkan Perbedaan Gender

1. Metode Modelling.

Menurut Suci (2004), metode ini berlaku pada anak usia dini. Misal jika yang biasanya

mencuci, memasak, dan menyapu adalah ibu, maka pekerjaan seperti ini dapat digantikan oleh

ayah sewaktu-waktu, sehingga hal ini akan tertanam dalam benak anak bahwa pekerjaan

domestik tidak hanya dapat dikerjakan oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki.

2. Metode Perlakuan.

Metode ini dapat dilakukan apabila terjadi hal-hal yang menurut kebudayaan tidak

selayaknya terjadi. Misalnya, bila orang tua melihat anak laki-lakinya menangis, orang tua

haruslah memahami apa yang sedang dirasakan oleh anaknya. Jangan melarang anak untuk

menangis karena menangis merupakan salah satu ungkapan emosi yang tidak hanya dapat

dilakukan oleh perempuan, melainkan juga oleh laki-laki (Suciati, 2004).

3. Metode Permainan Peran (Dramatisasi).

Menurut Zulkifli (1992), anak akan mampu mengenali jati dirinya sendiri, dapat

mengembangkan fantasinya, dan menyalurkan kecenderungan pembawaannya.

Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh terkait dengan gender?

Boleh :

  • Pendekatan melalui komunikasi kepada anak dengan Bahasa yang dapat dimengerti. Ajarkan hal yang benar, jawab dengan jujur dan benar bila anak bertanya.
  • Bila pengenalan gender dilakukan melalui permainan, maka penekanannya adalah pada tugas dan tanggung jawabnya.
  • Tanamkan sikap saling menghargai dan menghormati antar jenis kelamin.


Tidak Boleh :

  • Menganggap bahwa masalah gender adalah masalah yang belum saatnya untuk dibicarakan dengan anak, suatu hal yang baru, atau bahkan tabu.
  • Kurangnya kemauan orang tua untuk belajar soal memahamkan gender sehingga pemahaman yang diberikan kepada anak seringkali keliru.
  • Menggunakan stigma negatif stereotip. Dalam hal ini contohnya anak laki-laki tidak boleh menangis, karena yang menangis hanyalah anak perempuan.

No comments:

Post a Comment

Bunda Cekatan : Tahap Kupu-kupu Pekan 7