
Memasuki tantangan Hari Kedua di Zona Satu, hari ini temuan saya adalah Azel yang merasa bosan/bete di pagi hari dan pelanggaran kesepakatan tidur siang. Sama dengan hari sebelumnya, selepas sholat Subuh Azel dan Kayla tidak tidur kembali. Hari ini saya membangunkan mereka di akhir waktu Subuh. Oia, di Turki pelaksanaan sholat Subuh adalah pada akhir waktu. Tujuannya adalah untuk menunggu jamaah lebih banyak menunaikan sholat Subuh berjamaah di Masjid. Jadi sedikit banyak saya juga sering melaksanakan Sholat Subuh di akhir waktu, walaupun hanya sholat di rumah. Hehhehe
Sudah tiga hari berturut-turut saya menerapkan wajib tidur siang untuk ketiga anak saya. Tujuannya agar waktu istirahat tubuh mereka lebih lama. Kondisi cuaca disini yang tidak menentu akibat akan terjadi perubahan musim panas ke musim gugur. Jadi banyak yang sakit pada masa-masa ini. Oleh karena itu saya melakukan ikhtiar tersebut untuk menjaga kondisi fisik anak-anak selain memberi makanan bergizi dan minum vitamin. Lhoo....kok jadi membahas tidur siang yak. Tidak mengapalah karena temuan saya ini akan ada kaitannya dengan kegiatan tidur siang anak-anak.
Kita kembali ke laptop. Laptopnya apa?
Ya....itu tadi, Azel yang merasa bosan di pagi hari. Bagaimana saya tahu kalau dia bosan? Memangnya Azel ngomong? Ya tidak sih karena sebagai orang tua yang membersamainya selama ini sudah paham saja kalau dia merasa bosan. Nah yang jadi masalah apa penyebab Azel bosan?
Ternyata oh ternyata dia bosan karena tidak ada aktifitas yang membuat dia senang.
Azel : "Mi, mau dengerin lagu. Boleh pinjam HP Mami untuk mutar lagu?"
Mami : "Jangan ya Nak, nanti saja waktu siang. Saat kalian bobo siang diputarin lagunya"
Azel : "OK"
Sebenarnya dia merasa tidak puas dengan jawaban saya. Karena Azel pengen sekali mendengar lagu. Alasan saya untuk tidak mengikuti keinginan Azel adalah karena jika saya sudah memegang HP akan banyak pekerjaan-pekerjaan yang akan terbengkalai. Pastinya ada saja yang dibaca 😀. Ga bisa sebentar kalau sekali memegang HP. Saya butuh manajemen gadget juga nih. Insya Allah step by step saya akan belajar lebih baik. Kali ini saya fokus kepada komunikasi produktif saat membersamai anak-anak. Karena tantangan sekali bagi saya saat ini untuk berkomunikasi produktif kepada anak-anak. Kenapa saya berkata begitu? karena saya masih menjadi Ibu yang "labil" saat berkomunikasi dengan anak-anak. Masih belum bisa meredam emosi 😞. Itulah sebabnya ini merupakan tantangan besar bagi saya untuk bisa menaklukkan komunikasi produktif bersama anak-anak.
Baiklah, kita lanjutkan tentang hal yang terjadi pagi hingga siang hari di rumah kami ya. Sekalian kita lanjut untuk me-review komunikasi produktif apa yang sudah berhasil dan yang harus saya perbaiki.
Kita lanjutkan ceritanya. Dari semalam sebenarnya saya sudah berencana untuk ber-zumb* via youtub*. Namun saya urungkan, melihat Azel yang cemberut. Yasudahlah, kenapa saya tidak baking bareng aja sama Azel dan Kayla di pagi ini? Toh beberapa hari yang lalu saya sudah mencatat resep cake yang dipilih oleh Azel dan Kayla. Ya, resep cake coklat. Semua bahan sudah ada, tinggal eksekusi.
Mami : "Nak, kita bikin cake seperti yang kita lihat kemarin yuk!" ajak Saya.
Kayla : "Ayok Mi" langsung meluncur ke dapur
Namun Azel masih terlihat belum tertarik. Biarkan sajalah, nanti melihat adeknya asyik sibuk di dapur dia juga bakalan ikutan. Eh bener ternyata, akhirnya Azel ke dapur.
Mami : "Uni, mami lagi nimbang bahan kue. Uni tolong ambilin telor disana ya"
Azel : "Yang ini Mi?" sambil menunjuk telor yang sengaja saya simpan diatas microwave bukan di lemari es.
Mami : "Iya, benar. Tolong bawa semuanya ya!"
Azel mengambil semua telornya dan menyerahkannya kepada saya.
Mami : "Sekarang giliran siapa yang mengaduk coklatnya?"
Kayla : "Kakak aja yang ngaduk" ucap Kayla
Mami : "Memangnya Kakak nyampe lihat isi coklatnya?" sambil memberikan sendok pengaduk coklat yang sedang di tim. Kompor kami disini adalah standing stove jadi lebih tinggi.
Kayla : "Kakak nyampe kok"
Mami : "OK, tapi tetap hati-hati ya karena itu panas"
Azel : "Tapi uni mau juga" ternyata Azel juga mau mengaduk, namun coklatnya sudah meleleh dan tidak perlu diaduk lagi.
Mami : "Nanti uni scrap adonan telor aja ya. Tolong sekalian bawa spatula ke luar ya. Kita mix telornya di luar aja biar lega"
Azel : "OK" sambil bertiga kami ke ruang tengah dan membawa semua bahan dan peralatan yang telah dipersiapkan. Saya mulai mix butter dan gula menggunakan mixer. Azel pun dengan sigap scrap tumpahannya di dinding mangkok pengaduk. Begitulah kegiatan kami pagi hari bersama dua anak gadis.
Alhamdulillah cake nya jadi dan lembut banget. Kayla suka sekali ternyata dengan teksturnya. Ada sedikit miss antara saya dan anak-anak. Kenapa saya bilang miss? Karena saya belum menyampaikan bahwa cake yang didinginkan tersebut sudah ready untuk dimakan. Saya pikir anak-anak sudah paham bahwa ada satu step lagi untuk finishing cake nya, yaitu menyiramnya dengan coklat leleh setelah cake nya dingin. Ternyata saat saya lagi sibuk dibelakang, Azel berinisiatif memotong-motong cakenya karena Kayla mau makan. Ketika hendak memberi coklat leleh (ganache), saya kaget dong. Kenapa cakenya sudah terpotong semua.
Ya sudah lah, diberi coklat leleh setelah cake dipotongpun juga OK kok. Yang makan hanya kami, tak perlu lah dekorasi cake yang WOW. Namun satu hal yang menjadi poinnya, yaitu saya lupa mengkomunikasikan kepada anak-anak bahwa sebenarnya cake belum siap untuk dimakan. Dari sini saya dapat belajar, bahwa pola anak-anak berpikir dan bertindak itu masih kurang jauh. Mereka terlalu polos untuk menelaah bahwa sebenarnya cake nya belum siap. Padahal mereka tahu dan melihat di resepnya kemaren bahwa ada lelehan coklat diatas kuenya. Ya itu tadi, segala sesuatunya harus diungkapkan secara cermat dan detil kepada anak-anak. Tidak bisa kita menyalahkan mereka, karena pola pikirnya belum jauuuh ke depan seperti orang dewasa.
Nah, tadi saya sempat menyinggung bahwa review saya ada kaitannya dengan kegiatan tidur siang anak-anak. Apa tuh?
Jadi.....setelah kegiatan per-cake-an selesai, dan cake nya hanya tersisa beberapa slice saja, anak-anak sudah saatnya diberikan makan siang. Mulai lagi deh saya mencoba untuk melakukan komunikasi produktif.
Mami :"Nak, saat ini Mami memberi ijin kalian menonton youtub* beberapa saat. Tapi, syaratnya setelah makan siang kalian harus shalat dan tidur siang ya"
Azel dan Kayla "Iya Mi"
Kayla : "Tapi jangan kurangin jatah pakai HP besok ya Mi" memang Kayla anak yang kritiiiiiis sekali. Saya akuin, dia kritis dan konsisten.
Mami : "Iya" sambil kedapur untuk menyiapkan makan siang mereka bertiga.
Mami : "Nak, Mami ga mau meminta kalian berulang-ulang kali ya"
Iyaaa, jawab mereka kompak.
Apa yang terjadi? ternyata selesai makan, mereka masih sibuk menonton. Sekali saya panggil untuk wudhu. Dan mereka segera ke kamar mandi. Setelah itu mereka menuju kamar untuk sholat, sayapun ke belakang untuk menutup jendela dapur karena mau hujan disini. Takut air tempias masuk melalui jendela yang terbuka.
Saat saya masuk ke kamar, ternyata mereka bertiga main lompat-lompatan di atas kasur. Saya hanya berujar. Naaaaaaak. Azel dan Kaylapun segera memakai mukena dan sholat. Nah, setelah itu yang membuat saya kecewa dan marah kepada mereka. Ternyata setelah ditunggu beberapa lama, mereka belum mau tidur siang. Mau nya hanya main-main. Disitulah saya mulai menaikkan dan meninggikan suara saya ditambah ekspresi marah.
Yaaa Allah, saya merasa bersalah dan masih perlu banyaaaaaak lagi bersabar. Tulisan ini saat buat saat anak-anak mulai terlelap satu-persatu. Saya merasa bersalah terhadap anak-anak. Kenapa saya masih belum sanggup untuk menahan emosi ketika anak-anak "belum" mau untuk mengikuti kesepakatan yang telah dibuat? Maafkan Mami ya anak-anakku. Mami masih belum bisa menjadi Ibu yang sabar, namun akan selalu dan selalu berusaha. Bantu Mami agar bisa menjadi Ibu yang penyabar ya Nak.
Berikut review saya terhadap komunikasi produktif saya hari ini. Saya memberikan bintang dua kembali untuk diri saya sendiri. Review akan ditampilkan dalam bentuk infografis berikut.
Saya harus lebih baik dan lebih sabar lagi agar terjadi komunikasi yang produktif dengan anak-anak. Bukan komunikasi yang terjadi dalam ketakutan akibat Ibunya lagi marah/emosi. Aamiiin Yaa Rabbal'alamiin.
Sumber gambar : materi Bunda Sayang, canva dan google
No comments:
Post a Comment